ACEH JAYA – Upaya menjaga dan melestarikan warisan sejarah serta budaya Aceh kembali diwujudkan melalui pelaksanaan Upacara Adat Peumeunap dan Seumuleung Radja di Makam Poe Teumeureuhom Daya (Sultan Alaiddin Riayat Syah) yang berlangsung di Kuala Daya, Desa Glee Jong, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Jumat (29/05/2026).

Kegiatan adat yang telah menjadi tradisi masyarakat setempat tersebut dihadiri sekitar 500 peserta dari berbagai unsur pemerintahan, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga para pewaris kerajaan dari berbagai wilayah di Aceh. Hadir dalam kegiatan tersebut Asisten Sekretaris Daerah Aceh Dr. A. Murtala, M.Si., Bupati Aceh Jaya Safwandi, S.Sos., Dandim 0114/Aceh Jaya Letkol Czi Aris Widiatmoko, S.I.P., Kapolres Aceh Jaya AKBP Zulfa Renaldo, S.I.K., M.S., serta sejumlah tokoh adat dan raja-raja dari berbagai kerajaan di Aceh.

Pelaksanaan upacara adat tersebut menjadi momentum penting untuk mengenang sejarah panjang Kesultanan Aceh sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

Prosesi adat diawali dengan penyambutan para tamu agung di Astaka Diraja, dilanjutkan penjemputan Raja dari Bale Peuniyoh menuju lokasi utama acara. Berbagai rangkaian ritual adat kemudian digelar, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, selawat badar, doa adat, pembacaan maklumat Poe Teumeureuhom Daya, hingga prosesi Seumuleung yang menjadi simbol penghormatan dan penghargaan kepada tamu agung.

Salah satu bagian yang menarik perhatian masyarakat adalah prosesi Seumuleung, yaitu tradisi adat membasuh tangan Raja sebelum menikmati hidangan adat yang disiapkan. Tradisi tersebut juga diberikan kepada sejumlah tamu kehormatan sebagai simbol penghormatan dalam budaya masyarakat Daya.

Pelestarian Budaya sebagai Bagian Ketahanan Bangsa

Dalam sambutannya, Bupati Aceh Jaya Safwandi menyampaikan bahwa upacara adat tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarana untuk mengenang jasa para pemimpin terdahulu sekaligus menjaga kesinambungan nilai-nilai budaya yang diwariskan kepada generasi penerus.

Menurutnya, tradisi yang terus dipelihara masyarakat Aceh Jaya memiliki nilai strategis dalam memperkuat persatuan dan kebersamaan masyarakat. Selain itu, pelestarian budaya juga menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah yang berbasis pada identitas dan kearifan lokal.

“Tradisi ini menjadi sarana mempererat tali persaudaraan, memperkuat sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan tokoh adat. Semangat kebersamaan yang lahir dari budaya harus menjadi modal untuk membangun Aceh Jaya yang lebih maju,” ujar Safwandi.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga dan mengembangkan potensi budaya sebagai aset daerah yang dapat mendukung sektor pendidikan, sosial, hingga pariwisata budaya di masa depan.

Dari perspektif pertahanan negara, pelestarian budaya dan sejarah memiliki peran penting dalam memperkuat karakter bangsa. Nilai-nilai kebersamaan, loyalitas, penghormatan terhadap leluhur, serta semangat menjaga identitas daerah merupakan fondasi yang mendukung ketahanan nasional.

Kehadiran Dandim 0114/Aceh Jaya bersama unsur Forkopimda dalam kegiatan tersebut menunjukkan komitmen TNI untuk terus mendukung pelestarian budaya daerah sebagai bagian dari pembinaan teritorial dan penguatan ketahanan wilayah.

Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi, budaya lokal menjadi salah satu benteng yang menjaga jati diri bangsa. Karena itu, pelaksanaan upacara adat seperti Peumeunap dan Seumuleung Radja tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal akar sejarah dan identitas daerahnya.

Melalui kegiatan ini, masyarakat Aceh Jaya kembali menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga tradisi masa lalu, tetapi juga menjadi investasi sosial dan budaya untuk memperkuat persatuan, karakter bangsa, serta ketahanan wilayah di masa depan.(0114).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *