Di Desa Kuala Bubon, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, deretan benang emas yang tersusun rapi di atas kain beludru bukan sekadar hiasan biasa. Di tangan terampil Ema Mutiara Deka, sulaman kasab menjelma menjadi karya bernilai seni tinggi sekaligus menjadi sumber penguatan ekonomi bagi banyak keluarga di sekitarnya.

Perempuan yang akrab disapa Ema ini merupakan anggota Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 012 PD Iskandar Muda. Ia menikah dengan Koptu Didik Sulistyo Budi (NRP 31050191151086) pada 10 Oktober 2010, yang saat ini bertugas sebagai Ta Provost Dim 0105/Aceh Barat. Sejak menjadi seorang Persit, Ema menjalani dua peran penting secara bersamaan, yakni mendampingi suami dalam pengabdian kepada negara serta menjadi penggerak ekonomi kreatif melalui usaha yang dirintisnya, Mutiara Kasab.

Warisan Keterampilan yang Menjadi Jalan Pengabdian

Keterampilan menyulam kasab bukanlah hal baru bagi Ema. Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun dari orang tuanya yang juga merupakan pengrajin kasab Aceh. Berbekal kecintaan terhadap budaya daerah serta keinginan untuk membantu perekonomian keluarga, ia mulai menekuni dan mengembangkan usaha ini secara serius.

Bagi Ema, kasab bukan sekadar kerajinan tangan. Setiap motif yang disulam memiliki makna mendalam dan menjadi bagian dari identitas budaya Aceh. Motif seperti Pucok Rebung, Pinto Aceh, hingga Sulubayung khas Aceh Barat tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat akan filosofi tentang harapan, kehangatan, dan keindahan kehidupan.

Proses pembuatan kasab pun masih dilakukan secara tradisional. Dimulai dari menggambar motif di atas kain, kemudian memasang kain pada media berupa meja kayu, hingga proses penyulaman yang dilakukan secara manual dengan ketelitian tinggi. Waktu pengerjaan satu produk dapat memakan waktu antara satu minggu hingga satu bulan, tergantung tingkat kerumitan motif yang dikerjakan.

Dari tangannya, lahir berbagai produk bernilai seni tinggi seperti pelaminan adat Aceh, perlengkapan pesijuk, busana dan songket, tas, hiasan dinding, hingga tempat tisu dan berbagai cinderamata. Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di tingkat lokal, tetapi juga telah menjangkau pasar luar daerah.

Semangat Pemberdayaan dari Lingkungan Sekitar

Salah satu kebahagiaan terbesar bagi Ema adalah kemampuannya memberdayakan ibu-ibu di lingkungan tempat tinggalnya. Melalui usaha Mutiara Kasab, ia membuka peluang bagi para perempuan sekitar untuk turut belajar dan menghasilkan karya sulaman kasab, sehingga dapat memperoleh penghasilan tambahan guna membantu perekonomian keluarga.

Kebersamaan ini menjadi kekuatan utama dalam menjalankan usaha. Dengan saling belajar dan mendukung, mereka tidak hanya menciptakan karya bernilai jual, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi di kalangan perempuan.

Meski demikian, perjalanan usaha yang dijalani tidak selalu berjalan mulus. Tantangan terbesar yang kerap dihadapi adalah fluktuasi penjualan. Kondisi ini menuntut kreativitas, inovasi, serta kesabaran untuk terus bertahan dan mengembangkan usaha di tengah dinamika pasar.

Melestarikan Budaya, Menguatkan Ekonomi

Usaha Mutiara Kasab bukan semata-mata tentang bisnis, tetapi juga menjadi bentuk nyata pelestarian warisan budaya Aceh. Di tengah arus modernisasi dan menurunnya minat generasi muda terhadap kerajinan tradisional, Ema tetap konsisten menjaga keaslian proses pembuatan serta nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap karya kasab.

Melalui berbagai kegiatan seperti pameran budaya, promosi melalui media sosial, hingga partisipasi dalam kegiatan Persit seperti event Persit Bisa, Ema terus memperkenalkan kasab Aceh kepada masyarakat yang lebih luas. Ia juga berupaya menghadirkan sentuhan modern pada produknya tanpa meninggalkan akar tradisi yang menjadi ciri khas utama.

Kehadiran usaha ini pun memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar, dengan terbentuknya kelompok pengrajin yang turut membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.

Perempuan yang Menyatukan Peran

Sebagai seorang istri prajurit, Ema memahami betul dinamika kehidupan militer yang penuh dengan disiplin, kesiapsiagaan, dan pengorbanan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, hal itu tidak menghalanginya untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.

Ema membuktikan bahwa perempuan Persit mampu menjalankan berbagai peran sekaligus—mendampingi suami dengan penuh kebanggaan, melestarikan budaya daerah, serta menjadi penggerak ekonomi keluarga dan lingkungan sekitar.

Inspirasi dari Desa Kuala Bubon

Dari sebuah desa di Aceh Barat, Ema Mutiara Deka menunjukkan bahwa karya besar dapat lahir dari ketekunan, kesabaran, dan kecintaan terhadap tradisi.

Melalui benang-benang kasab yang disulam dengan penuh ketelitian, ia tidak hanya menciptakan keindahan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi banyak perempuan untuk menjadi lebih mandiri dan berdaya.

Kisahnya menjadi bukti bahwa anggota Persit tidak hanya berperan sebagai pendamping, tetapi juga sebagai pelestari budaya, penggerak ekonomi, dan sumber inspirasi bagi masyarakat di sekitarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *